Kokohnya Walisongo di Tengah Arus Modernisasi

Gambar terkait

Bada al Islam Ghoriban, fa saya’udu Ghoriban, fa tuba lil Ghuroba. Yang artinya “Islam tidak begitu populer di awal kemunculannya, dan akan kembali seperti semula di akhir kedewasaan usianya, maka beruntunglah bagi mereka orang-orang yang memiliki keistimewaan.” Penjelasan dari sebuah maqolah.

Berkaitan dengan sebuah pondok pesantren di arus modernisasi. Dulu memang agama Islam pada awal kemunculan tidak banyak yang mengenalnya, karena memang dianggap ajaran baru. Dengan jerih payah Nabi beserta para sahabatnya, akhirnya islam yang membawa misi kebenaran sejati pun diterima oleh mayoritas pihak. Namun, tampaknya agama Islam telah memasuki fase akhir, seperti halnya ungkapan di atas, kembali ke kondisi semula, yakni minoritas.

Kini memang benar, banyak pondok pesantren berdiri dengan megah. Namun, keseimbangan dalam pondok tersebut mulai menurun. Dengan pengaruh dari faktor internal maupun faktor eksternal. Berbagai sekte aliran menyimpang telah mengakar, mereka melakukan penyimpangan mengatasnamakan Islam. Kondisi seperti inilah yang memberi peluang untuk merobohkan kokohnya agama Islam.

Apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut?

Dengan menyeimbangkan pola piker. Abah K. H. Ma’ruf Islamuddin selalu mengatakan kepada santri-santrinya “Kita semua harus bisa seimbang, karena seimbang itu adil dan baik.” Dalam konteks ini, yang dimaksudkan seimbang ialah santri harus mampu menyeimbangkan ilmu pengetahuan keagamaan dan ilmu pengetahuan formalnya, sehingga santri dapat mengetahui segala bentuk perilaku maupun peristiwa yang akan terjadi dilingkungannya. Selain itu juga, ketika santri keluar dari dari area pondok, mereka tidak terkejut dengan pergaulan luar dan juga tidak terbawa arus modernisasi yang buruk.

Sesuai dengan pengamatan. Dunia luar memang semakin keras, arus modernisasi telah menyelubungi dunia, mereka yang beragama Islam hanyalah sekedar status. Mereka harus disadarkan, bahwa tidak hanya ilmu pengetahuan formal saja yang dicari, dan hidup di dunia ini tidaklah untuk bersenang-senang belaka. Beribu pertanyaan membayangi tiada henti, dan pada saat yang sama hanya pesantrenlah yang dianggap mampu untuk memberikan jawaban atas polemik rumit itu.

Apakah Pondok Pesantren Walisongo Sragen masih bisa bertahan di tengah arus modernisasi ini?

Pondok Pesantren Walisongo Sragen sudah berdiri sejak tahun 1995. Telah terbukti, hingga saat ini Ponpes Walisongo masih kokoh dan mampu menciptakan generasi terpelajar, dengan dua metode pembelajaran yang Abah Ma’ruf terapkan mampu membekali santrinya. Metode yang pertama adalah metode salafiyah dan yang kedua metode modern. Kedua metode tersebut telah disatukan untuk mewujudkan keseimbangan. Sehingga, selain belajar keagamaan, santrinya juga tidak ketinggalan dengan hal-hal modern yang seiring waktu berubah-ubah.

Menyeimbangkan memanglah sulit, namun dengan awal mula dipaksakan, dan terpaksa, akhirnya semua itu akan terbiasa. Santrinya Abah Ma’ruf tidak hanya diajarkan mengaji, namun mereka juga diajarkan berorganisasi untuk bekal mereka ketika terjun dalam lingkungan masyarakat. Belajar untuk menjadi insan yang bermanfaat bagi orang lain. Itulah sistem yang diterapkan dalam Pondok Pesantren Walisongo agar santrinya tidak mudah terseret arus modernisasi yang buruk. Hingga saat ini, Pondok Pesantren Walisongo Sragen masih berdiri kokoh dengan melahirkan insan yang berjiwa pemimpin dengan nilai agamisnya yang melekat. (Munadzirotun)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *