Pemilu ISWA 2020

(WalisongoNews) Sisi sederhana dalam implementasi demokrasi dalam keberjalalan ISWA sebagai wujud garda depan Pondok adalah melalui pemilihan Presiden ISWA. Presiden yang dimaksud di sini seperti halnya sebagai sosok Eksekutif dalam Pondok Pesantren Walisongo Sragen. Mereka akan menjalankan roda pemerintahan Pondol satu tahun ke depan (jangan samakan dengan kurun waktu jabatan Presiden di negara kita yakni 5 tahun).

Sosok presiden ISWA yang terdiri dari 4 orang yang tetbagi dalam 2 paket pemimpin, satu pasang bagi Santri Putra dan satu paket lagi untuk santri Putri. Mereka dipilih laiknya sebuah pesta demokrasi di Indonesia, yakni dipilih berdasarkan asas demokrasi, LUBER.

Pola pemilihan Presiden ISWA yang dilakukan oleh Panitia Pemilihan tersentral menjadi satu (kalau dalam pemerintahan terbagi menjadi sebuah hierarki yang panjang, KPU Pusat, KPU Propinsi, KPU Kabupaten, hingga Panitia Pemilihan Kecamatan dan Desa). Mereka berupaya menjalankan sistem pemilihan yang adil tanpa ada proses interfensi dari Santri maupun Pengasuh.

Hebatnya lagi, metode yang digunakan dalam penyampaian Visi Misi yang dinamakan masa kampanye juga diatur sedemikian rupa. Para Paslon berupaya berebut suara dari para rekan sejawat, sampai pada para dewan Asatidz Asatidzah.

Krmarin, 14 Oktober 2018 menjadi tonggak sejarah baru bagi Pondok Pesantren Walisongo Sragen. Proses demokrasi pemilihan Presiden ISWA dimulai dengan gegap gempita riang para santri. Mereka berduyun-duyun menggunakan hak pilih untuk memberikan hak suaranya guna memperoleh santri idola, pemimpin mereka 1 tahun ke depan.

Bagi santri demisioner, akan mempertanggungjawabkan kepemimpinan selama satu tahun jabatan yang diemban melalui majelis kehormatan di depan Pengasuh, Dewan Asatidz, dan seluruh santri Pondok Walisongo Sragen.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *