Topeng Kebijakan


Dim Faqot Headlines 26-7-2021 03:11:27

Sore itu, berinjak pukul 18.00 WIB. Aku baru pulang dari rumah kawanku, ketika kaki ini melangkah tepat di depan pintu ku berhenti, pupil ini menangkap bayang dari ujung sampai ujung, dalam bayangan itu terstruktur dengan dua buah tangan yang malangkerik di pinggang kanan dan kiri. Aku mencoba memfokuskan penglihatanku dan ternyata itu bayangan dari tubuh Ibuku yang sudah stand by di pintu. Wajah Ibuku sudah tak mengenakkan lagi untuk dipandang. akhirnya ku hanya tertunduk dengan memeluk buku-buku besar pelatihan UN. diam ku tersedu dan tiba-tiba...
"Buat apa kau pulang? kenape kau tak tidur di rumah kawan kau sana? salat di sana, makan di sana, matipun di sana saja kau!" Luapan emosi Ibuku.
"Ibu maafkanlah aku?" Mohonku tertunduk di hadapan Ibuku.
"Tak payah kau minta maaf, kau ini memang keterlaluan, kasihan kak Denia mencario kau kemana-mana, sekarang diapun malah belum pulang. kau itu tak pikir panjang kalau bertindak, main terus yang kau pikirkan, kau ini sudah besar Denok, bukan bocah-bocah lagi, apa kau tak mikir Ibu sibuk kerja untuk membiayai sekolah kau. kak Denia sampai berhenti kuliah demi kau, demi mempertahankan sekolahmu. tak paham-paham juga Denok? Anak tak diguna, tak perlu kau masuk, tidur dirumah kawanmu sana!" Tertutuplah pintu itu dengan suara yang mengiringi "Brakkkk" setelah Ibuku berkicau panjang lebar.
Aku hanya diam, aku bingung harus bagaimanakah diriku, tepat pada saat itu ku hanya menerima segala celotehan Ibuku dan Aku duduk di bangku depan rumahku sembari berpeluk pada buku-buku yang aku bawa. lamunku tiba-tiba melelapkan pada tidurku. bumi selalu berputar begitu juga dengan detikan jam tanganku.
Terlalu lelap ku pada tidur, hingga aku terbangunkan oleh suara lembut tepat di dekat telingaku, terngiang suara itu memanggil namaku "Denok bangun Denok!" bisik itu mengusik tidurku . kelopak mataku terbuka, masih samar-samar penglihatanku tapi perlahan semakin jelas, spontan ku berkata "Kak Denia?" Celetukku.
"Eh kau ni ngapain di luar Denok?" Tanya kakakku itu.
"Kakak..." sentak kui langsung memeluk kakakku sembari menangis.
"Hey sayang, lihat kakak, kau tadi dari mana? Kakak mencari kemana-mana kau tak ada." Ujar kakakku.
"Maafkan Denok kakak, tadi Denok itu belajar dirumah kawan Denok, kakak tahukan kemarin Denok dah dimarahin Ibu karena tak dapat juara di sekolah, maka dari itu denok berusaha belajar, tapi Ibu malah beranggapan Denok itu main sama kawan. kakak macam mana nih? denok tak boleh masuk kak" Ungkapku dengan menatap bola mata kak Denia yang berbinar-binar.
"Itu bisa dijelaskan, kesalahan kau itu di bagian managemen waktu Denok, kau tak salah kalau belajar, tapi penempatan waktu kau yang salah, kau pulang jam berapa tadi?" Tanya kak Denia diiringi tangannya yang mengambil buku besar fokus UN-ku.
"Manjing Maghrib kak" Jawabku.
"Tuhkan, pantaslah kalau Ibu marah, manjing maghrib baru pulang. sekarang jam berapa? Udah salat belum? Belumkan?" Celoteh kakakku.
"Belum kak, Denok gak berani masuk" Ujarku.
"Ayo masuk sama kakak" Ajak kak Denia dengan menarik tanganku.
Akhirnya ku masuk rumah dengan kakakku, aku bergegas menuju kran belakang rumah untuk berwudlu. Ketika ku beranjak masuk kamar aku sedikit mendengar perdebatan dari kak Denia dengan Ibuku. Hatiku sedikit tersentak dengan keadaan itu, mereka pasti membicarakan aku. Oh astaga, jujur aku ini baperan, kebalikan dari kakakku Denia dia cewek tapi tegar. lha aku cowok tapi malah baperan. melihat Ibuku debat saja bendungan air mataku sudah jebol. entahlah, bagaimana dengan diriku ini. aku sudah tak kuat lagi menahan air mata , bergegas ku masuk ke dalam kamar, aku sadar bahwasannya aku itu belum salat Maghrib, sedangkan sebentar lagi saatnya salat Isya', akupun tak pikir panjang dan langsung salat Maghrib.
Mungkin aku terlalu lelah, sampai-sampai ku tak sadar, aku ketiduran setelah salat Maghrib dan ternyata diriku bangun tepat jam 12 malam, hawanya sedikit membuat bulu kuduk diseluruh tubuhku berdiri. Tapi, mau gak mau aku harus bangun dari posisi berbaring dan segera menjalankan salat sebelum fajar tiba. Ya, inilah didikan dari orang Ibuku, jujur sebenarnya sedikit menyebalkan harus disiplin lah, gini-gitu, dan blabla....bla, jenuh aku. Tapi anehnya, didikan itu membuatku merasakan ketenangan, seakan-akan ada sang surya yang terbit dari ujung timur untuk menindas kegelapan dalam hidupku. Oh astaga kacaunya diriku dengan majas-majas yang menurutku terlalu hiperbola, dan anehnya aku menyukai hal itu. Emh, sudahlah jika dipikir-pikir aku ini memanglah sudah dewasa, aku sudah SMP kelas 9 dan besok aku sudah UN, ingin ku bisa masuk SMA Favorit dengan gratis. hahaha... tapi hampir tidak mungkin itu terjadi padaku, aku belajar saja Ibu memarahiku bagaimana aku bisa meraih prestasi?
"Denok?"
Sungguh ku tersentak kaget ketika ada yang memanggil namaku di tengah malam, siapa itu? aku harus berani menengok, suara itu terdengar dari balik pintu. Akupun melangkah membuka pintu dan ternyata ada kak Denia disitu. Spontan ku berkata "Eh kak Denia, kakak belum tidur?" Tanyaku.
"kakak Khawatir kau bertindak macam-macam." Ujar kak Denia.
"Ayo kak masuk ke kamarku, Denok pengen ngobrol sama kakak." Ajakku sembari menarik tangan kak Denia.
"Duduklah kak!" perintahku.
"Eh, tunggu Denok, kau apa sudah salat?" curiga kak Denia
"Jujur kak, Denok belum salat, tadi ketiduran setelah salat Maghrib." Jawabku dengan percaya diri.
"Salat dulu sana, kakak tungguin, yang khusyuk, dan jangan lupa doa!" Tutur kak Denia beriringan tangannya yang lembut mengelus-elus pipiku. Semangat 45 ku langsung menjawab "Siap kakak" Ku ecup pipi kak Denia dan bergegas sholat Isya'.
Berkisar pada rembulan malam ini setelah ku sholat, aku kembali ke kamar dan duduk didekat kakakku. kak Denia menatapku penuh kasih sepertinya dia memang sedang memendam sesuatu, aku berusaha bertanya tapi dia tetap diam dengan air mata yang mengalir dari hulu ke hilir pipi kak Denia, tanganku terulur dengan sendirinya menghapus air mata yang membasahi pipi kak Denia. Akhirnya kak Denia melepaskan kata yang sudah lama terbungkam oleh mulutnya.
"Denok, pasti kakak tidak pernah cerita pada kau, pasti kau beranggapan kakak kau ini selalu mendapat kemewahan, tak lah Denok, kakak mohon jangan berpikir negatif tentang kakak. kakak sayang pada kau Denok, kau adik satu-satunya kakak, jangan pernah kau berusaha ninggalin kakak dan Ibu!" Ungkap kak Denia tersedu-sedu dengan kedua tangannya yang memeluk erat diriku.
"Kakak, Denok takkan lakukan itu, Denok sayang Ibu, kakak, dan alm. Bapak, Denok sayang semuanya" Ujarku.
"Denok, ini saatnya kau tahu semuanya, tapi kau jangan marah sama kakak!" tutur kak Denia.
aku menganggukkan kepala tanda ku setuju dengan pernyataan dari kak Denia itu, aku semakin penasaran, kak Denia pun memulai ceritanya.
"Dulu, sebelum kau lahir, ada sosok bayi kecil yang mendahului kelahiranmu, kau tahu siapa bayi itu, dia adalah adik pertama kakak dan kakak keduamu" Ungkap kak Denia menambah tangis pada matanya.
"Lalu kemana dia kak?" Rasa penasaranku mengolah otak sehingga ku berani bertanya itu.
"Dia pergi ke sang pencipta pada usianya yang baru satu bulan, dia sudah diberi nama, kau tau namanya siapa? Danial, nama yang indah dari Bapak. Bapak sangat menyayanginya, Bapak menaruh banyak harapan padanya. bahkan kakak pernah merasa cemburu karena hal itu, tapi kakak sadar setelah kepergian Danial, Bapak dipenuhi rasa kecewa dan Bapak pun mengatakan pada kakak bahwa Bapak menaruh harap pada Danial agar Danial bisa meraih cita-cita Bapak untuk memperjuangkan agama dalam masyarakat, tapi harapan itu ikut sirna bersama terbenamnya Danial. Asal kau tahu Denok, ketika kau lahir wujud laki-laki, Bapak sangat bahagia dan singkat cerita sebelum Bapak meninggal, Bapak berpesan untuk menjaga dirimu dan dirimu harus bisa mencapai harapan Bapak, itulah pesannya" Ungkap kak Denia.
Aku termangu menatap kosong wajah kakakku yang berlumuran tangis. Diriku sendiri tak menyangka akan mengetahui semua ini, hidupku memang berbelit, merasakan ini itu yang sebenarnya tak ingin kurasakan"Tuhan inikah hidupku?" Spontan ku berucap. kak Denia memelukku, dia mengatakan segala harapannya kepadaku, mulai dari prestasi, kesungguhan dan lain sebagainya. dia juga mengingatkanku bahwa besok aku sudah UN, itulah ajangku untuk membuktikan kesungguhan tekadku, detik ini pukul 01.05 WIB aku akan menentukan garisku hidupku sendiri.
"Aku janji kak, akun akan menjadi yang terbaik, mengukir garis hidupku disetiap pijakan kakiku kak." Tuturku dengan hasrat kuat dalam tubuhku.
"Kakak yakin kau bisa, sekarang tidurlah di pangkuan kakak, besok kau sudah ujian!" celoteh kak Denia.
Diriku terlelap ditemani kelembutan tangan kak Denia yang setia mengelus-elus rambutku.
tik tok tik tok tik tok, Dini hari tiba. aku bergegas persiapan sekolah, menyiapkan segala keperluan ujian dan akhirnya ku terhenti karena melihat Ibu tepat berada di depanku membawa segelas susu putih kesukaanku, ucapku terlepas.
"Ibu..."Ku terpelongo
"Denok, ini susu khusus buat kau, minumlah!" tutur Ibu
"Buat Denok bu? gak salahkan bu?" Tanyaku meneliti lagi.
"Minumlah" Ujar Ibu
serentak `ku melupakan susu itu dan memeluk Ibuku, hal yang selam ini ku rindukan darinya, itu mengingatkanku terakhir kali ku di peluk Ibu waktu aku baru berusia 10 tahun.
"Ibu aku rindu saat-saat seperti ini" tetes air mataku bercucuran.
"Maafkan Ibu Denok, selam ini Ibu kurang perhatian sama kau." Ujar Ibu sembari mengusap air mataku.
"Ibu perhatian sama denok, buktinya Ibu sering marah-marah sama Denok." Kataku.
"Ibu tersenyum simpul "Akhirnya kau paham juga nak." Ungkap Ibu.
"Paham apa Ibu?" Tanyaku balik.
"Kau paham, seseorang bersikap negatif padamu bukan berarti maksudnya negatif, pasti ada maksud tersendiri atas apa yang ia lakukan. Ingat Denok, janganlah kau memandang sisi negatifnya , ambillah hikmahnya. Dah, sekarang minumlah susunya dan cepat berangkat, semoga sukses, doa Ibu menyertaimu sayang." Tutur Ibu memberikan segelas susu itu padaku.
Seru ku menghabiskan segelas susu itu dan berangkat kesekolah,  bermulai dari pamit dengan Ibu dan Kak Denia "Assalamualaikum" salamku tanda pergi, "Waalaikum salam" jawab serentak kak Denia dan Ibu.
Semenjak itu, ku berusaha keras mewujudkan harapan Bapak, Ibu, dan Kak Denia. Akhir-akhir inipun Ibu mulai membiasakan menyambut pagiku dengan segelas susu putih yang menambah semangatku untuk menjalankan UN-ku. seperti itu terus hingga tibalah saatnya pengumuman kelulusan tepat hari Sabtu, pukul 08.00 WIB. Aku mengajak kak Denia dan Ibu untuk menyaksikan kelulusanku, karena aku yakin aku pasti lulus dengan nilai yang memuaskan. Sepucuk surat pengumuman telah dibagikan kepada wali murid, aku menutup mataku disaat Ibu membuka surat pengumuman itu. tik tok tik tok, tiba-tiba kak Denia merenggut tangan yang menutupi mataku. "Hey Denok, kau lulus" senyum mengembang dari mulut kakakku.
"Sungguh?" Tanyaku memastikan
"Iya" Ibu menjawab dan memelukku.
" Hore... Aku lulus Bu, AKu lulus" Jelasku kepada Ibu dan Kak Denia.
"Haha... Denok lulus" Kak Denia pun ikut memelukku.
Itu merupakan peristiwa yang sangat mengesankkan untukku. Akan tetapi, pelukan keluarga itu berhenti ketika Bapak Kepala Sekolah berdiri di atas panggung, namanya Pak Sugio. Beliau berkata "Bapak dan Ibu wali murid yang saya hormati, berdirinya saya disini bertujuan untuk memberi sedikit apresiasi untuk murid yang berprestasi . ya, sebelumnya terimakasih untuk semua yang hadir . langsung saja saya panggilkan siswa berprestasi yang nilai kelulusannya mumpuni, saya panggilkan untuk juara ketiga Dian Nadilla, silahkan naik keatas panggung dan juara pertama diraih oleh Nadia Slafina, okey yang belum say panggil yakni untuk juara kedua, bagi saya ini sangat mengejutkan, selama ini dia sangat  acuh tak acuh dengan sekolahnya. Tapi ternyata dia bisa menjadi sang juara meskipun yang kedua, saya panggil saudara Denok Saputra, silahkan maju kedepan." Ungkap Pak Sugio.
Aku, Ibu, dan Kak Denia sama-sama terkejut. Aku benar-benar tak menyangka, rasa haru, senang, semuanya bercampur. Bergegas ku maju kedepan dan sebuiah Trophy diserahkan padaku, ku menyempatkan memegang mikrofon lalu berkata "Untuk alm. Bapak, terimakasih harapannya, untuk Ibu dan Kak Denia maafkan Denok yang terlalu sulit untuk dituntun menuju jalan jalan kebenaran, terimakasih juga untuk semuanya." tuturku dengan setetes air mataku.
Aku pun turun dari panggung dan langsung memeluk kak Denia dan Ibu, rasa senang dalam hati bergejolak, dan akhirnya Ibu bertanya padaku. "Setelah ini kau mau melanjutkan kemana? Tanya Ibu memandangku dengan lirih.
"Ibu ingin tahu aku mau kemana setelah ini? Aku... Aku akan melanjutkan di pondok pesantrn, menggapai segala harapannya Bapak... Senyumku mengiringi kata-kata yang Aku ungkapkan.
"Ibu sayang padamu, sayang" Ibu memelukku sangat erat dan mengecup keningku berkali-kali.
Pada dasarnya mata itu ada dua, yang seharusnya difungsikan secara bersama agar tidak salah memandang dan tidak salah mengartikan. Ini alur hiduku, akhirnya ku dapat melanjutkan jenjang pendidikanku  di pondok pesantren sesuai harapan Bapak.

(Muna)

 

Comments